Manusia mempunyai kecenderungan untuk mengukur segala sesuatu. Pada zaman modern, barangkali alat untuk yang pertama digunakan untuk mengukur kecerdasan seseorang diawali dengan penciptaan tes Intelligent Quotients (IQ) (Thomas R. Hoerr, 2007). Pada awal 1900-an, Alfred Binet di Paris diminta untuk mengembangkan alat yang akan digunakan untuk mengenali anak-anak dengan mental terbelakang dan membutuhkan perhatian khusus. Saat itulah, tes kecerdasan standar yang pertama di dunia terlahir dan kajian para psikolog dunia tentang kecerdasan dimulai. Belakangan Carl Brigham meneruskan perkembangannya dengan merancang tes IQ yang telah diperbarui dengan nama Scholastic Aptitute Test (SAT) (Munif Chatib, 2006). SAT dibuat dengan cara memberikan serangkain pertanyaan kepada anak-anak. Mereka mencatat pertanyaan yang dapat dijawab dengan betul oleh hampir semua anak, pertanyaan yang bisa dijawab oleh sebagian besar anak, pertanyaan yang bisa dijawab oleh sebagian kecil anak dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh seorang anak. Informasi yang dihasilkan digunakan untuk merancang sebuah alat tes untuk membeda-bedakan tingkat pengetahuan anak, disusun sedemikian rupa sehingga skor 100 menunjukan kecerdasan rata-rata. Gagasan bahwa kecerdasan dapat diukur dengan skor akhirnya berakar. Beberapa tahun kemudian banyak sekali tes standar tersedia untuk beragam tujuan, semua berdasarkan teori yang digagas oleh Binet bahwa sebuah tes dapat menghasilkan angka yang menggambarkan seluruh kemampuan dan potensi seseorang.
Sejak tes IQ diciptakan orang selalu melihat kecerdasan seseorang sebagai sesuatu yang tunggal yang dibawa sejak lahir dan tidak akan banyak berubah sepanjang kehidupan seseorang. Hasil tes IQ digambarkan dalam bentuk angka yang dengan angka tersebut daat diketahui bahwa seseorang bisa dimasukkan dalam kelompok jenius bagi orang yang menghasilkan angka tinggi dan kelompok idiot bagi orang menghasilkan angka rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Howard Gardner (1983) membuktikan bahwa pandangan ini keliru (Thomas Armstrong, 2005). Masalah terbesar dari tes standard dan tes IQ adalah bahwa tes-tes ini mengukur kecerdasan secara sempit, berdasarkan seberapa baik siswa dapat membaca dan menghitung. Hanya sedikit dari kemampuan murid yang dapat diukur melalui tes ini yaitu kecerdasan akademik saja, terutama kecerdasan berbahasa dan matematika, itupun hanya sebagian kecil saja sedangkan kemampuan yang lain tidak dapat diukur dengan tes ini. Gardner menyatakan bahwa ada banyak kecerdasan yang tidak dapat diukur oleh tes IQ standar. Bakat musik, misalnya, tidak dapat diukur melalui kecerdasan ini. Ia mengatakan bahwa dunia psikologi dan pendidikan telah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari kecerdasan melalui ruangan tes. Tes semacam ini hanya memang dapat mengukur sepenggal kecil dari sebuah gambar yang besar. Perlu diingat bahwa kehidupan nyata jauh lebih luas dari kehidupan di sekolah. Keberhasilan di kehidupan nyata mencakup lebih dari sekedar kecakapan berbahasa (menulis dan membaca) dan berhitung. Kita dapat lihat dari kenyataan di dunia bahwa orang-orang yang sukses di dunia adalah bukan orang yang berhasil di sekolah (Chatib, 2006)[2]. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering kali melihat berita tentang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mempunyai kemampuan melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang normal, ini membuktikan bahwa orang idiot –berdasarkan vonis tes IQ- sekalipun mempunyai kecerdasan.
Setelah melalui berbagai penelitian, Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang bernilai budaya (Armstrong, 2005, Hoerr, 2007). Ini menggambarkan definisi yang lebih luas, bersifat pragmatis dan berfokus pada penggunaan kemampuan dalam situasi kehidupan nyata, berbeda dengan definisi yang digambarkan dalam tes bakat standar yang didasarkan pada kefasihan berbahasa, kosa kata luas dan kecakapan berhitung yang hanya berguna di sekolah. Ia mengembangkan seperangkat kriteria untuk menentukan serangkaian kecakapan yang membangun kecerdasan. Kriteria difokuskan pada menyelesaikan masalah dan menciptakan produk dan didasarkan pondasi biologis dan aspek psikologis dari kecerdasan (ibid, 2007). Ia mengemukakan bahwa sebuah kemampuan dapat dianggap sebagai kecerdasan jika memenuhi beberapa (tidak perlu semua) kriteria dibawah ini:
* Mempunyai potensi untuk terisolasikan karena kerusakan otak, contoh: suatu lokasi kerusakan otak seperti yang terjadi pada penyakit stroke dapat mengakibatkan kehilangan kemampuan berbahasa.
* Ditunjukan dengan keberadaan orang idiot-genius[3], berbakat dan individu luar biasa lainnya yang memperlihatkan tingkat kecakapan tinggi dalam satu bidang. Sebagai contoh orang yang memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam satu jenis kecerdasan, bila kita amati kecerdasan tersebut tersendiri atau terisolasi dari kecerdasan lainnya.
* Memiliki operasi (proses) inti atau seperangkat operasi yang dapat dikenali. Kecerdasan musikal terdiri dari kepekaan terhadap melodi, harmoni, irama, nada, dan struktur musik. Kecerdasan berbahasa terdiri dari kepekaan pada struktur dan tata kalimat, kosakata, ritme, dan irama, serta perangkat sastra seperti pengulangan bunyi yang sama pada suku kata pertama.
* Memiliki sejarah perkembangan yang berbeda, berikut serangkaian kinerja puncak yang bisa didefinisikan. Atlet, penyair dan salesman menunjukkan karakteristik seperti ini.
* Memiliki sejarah evolusioner atau probabilitas evolusioner. Binatang menunjukkan bentuk-bentuk kecerdasan spasial. Burung memiliki kecerdasan musikal.
* Didukung oleh uji psikologis. Tes dapat menunjukkan bagaimana kecerdasan itu berdiri sendiri atau saling berhubungan.
* Didukung oleh temuan-pemuan psikometrik. Sebagai contoh, sederetan tes dapat mengungkapkan kecerdasan mana yang mencerminkan faktor-faktor tersembunyi yang sama.
* Memiliki kelemahan terhadap pengkodean ke dalam sistem simbol. Kode-kode seperti bahasa, peta, angka, dan ekspresi wajah menangkap komponen-komponen dari beragam kecerdasan.
Selasa, 16 Maret 2010
Langganan:
Komentar (Atom)